Mari Memahami Haji Mabrur, Maqbul dan Mardud

Mari Memahami Haji Mabrur, Maqbul dan Mardud

Mari Memahami Haji Mabrur, Maqbul dan Mardud – Tiap tahun jutaan orang dari seluruh penjuru dunia pergi ke Tanah Suci untuk menunaikan ibadah haji. Namun, belum tentu semua jamaah itu diterima hajinya. “Tingkatan orang yang berhaji itu ada yang makbul, ada yang mardud, dan ada yang mabrur.

Mari Memahami Haji Mabrur, Maqbul dan Mardud

Mari kita belajar bersama sama mengenai arti dan maksud dari ketiga hal tersebut, agar ibadah haji kita menjadi ibadah yang baik, amin.

Haji Mabrur.

Mabrur adalah haji yang diterima walaupun keMabrurannya akan diukur setelah pulang dari tanah suci, apakah ada perobahan ke arah yang lebih baik dari sebelum naik haji. Perilaku haji mabrur betul-betul menampakkan perubahan yang mendasar ia akan menjadi pionir dalam menegakkan dan menjunjung tinggi ajaran Islam. Hal tersebut diatas bila kita lihat secara dzohirnya. Mengenai kepastian Mabrur atau tidak itu hanya Allah Swt, yang mengetahui.

Haji Maqbul.

Haji Maqbul ialah hajinya diterima dikarenakan telah meneuhi syarat dan Rukun. Maknanya adalah orang tersebut telah melaksanakan haji di tanah suci dan mengikuti seluruh rangkaian pelaksanaan ibadah haji dari awal hingga selesai dan lengkap.

Ciri-ciri yang dapat dilihat secara Dzohir adalah, baginya ketika sebelum berangkat haji ia mempunyai tabiat yang kurang baik/sedang-sedang saja dalam pengamalan agama dan juga sedang-sedang saja dalam bersosialisasi dengan masyarakat, dan tatkala ia telah kembli ke tanah air dari menunaikan hajinya, perilakunya masih tidak ada perubahan apalagi peningkatan dalam pengamalan agama maupun pergaulan sosialnya dengan masyarakat, maka sebagian ulama mengatakan kepada haji yang demikian adalah haji Makbul. Sekali lagi tentu yang dapat mengetahui secara pasti itu maqbul hanyalah Allah Swt.

Namun dengan ciri secara dzohir diatas, ulama sepakat mengatakan itu adalah haji Maqbul.

Haji Mardud.

Haji Mardud adalah Haji yang ditolak dikarenakan tidak memenuhi syarat dan rukun. Maknanya adalah bahwa orang tersebut juga telah melaksanakan rangkaian ibadah haji dari awal hingga selesai, sebagaimana apa yang dikerjakan oleh para jama’ah haji pada umumnya. Namun orang ini tidak mngindahkan syarat rukun bahkan penggunaan dananya juga tidak menghiraukan apakah diperoleh dengan jalan yang halal. Karena yang pasti apabila beribadah haji dengan menggunakan dana yang haram ini sudah pasti akan ditolak oleh Allah Swt.

Ciri-ciri yang dapat dilihat dari Haji Mardud secara dzahir adalah diantaranya ketika ia belum berangkat ke tanah suci dalam menunaikan ibadah haji itu ia adalah orang yang memiliki perilaku biasa-biasa saja tidak ada yang menonjol dalam kepribadian untuk menjalankan perintah agama secara dawam/istiqomah dia termasuk orang yang dalam pergaulan sosialnya di masyarakat juga biasa saja tidak ada memiliki kelebihan kebaikan yang banyak manfaatnya dalam lingkungan.

Dan ketika ia kembali dari tanah suci juga tidak mempunyai perubahan kebaikan dalam kepatuhan terhadap perintah Allah khususnya dalam pengamalan agama yang harus dijalankannya, bahkan setelah kembali dari menjalankan ibadah hajinya ia malah lebih buruk karekternya daripada sebelum ia berangkat ke tanah suci. Hal ini para ulama mengatakan bahwa yang demikian adalah orang yang menyandang haji Mardud. Wallahu ‘alam.

Mari kita tanya pada diri kita masing-masing bagi yang telah menunaikan haji, dan dijawab dengan jujur apakah haji kita betul-betul Mabrur, atau hanya Maqbul, dan jangan-jangan malah Mardud. Wallahu’alam.

Referensi : rasiyambumen

Leave a Reply

Kembali
×