Jangan Sampai Terlewat Untuk Membaca, Ini Dia 6 Keutamaan Ibadah Haji

Jangan Sampai Terlewat Untuk Membaca, Ini Dia 6 Keutamaan Ibadah Haji

6 Keutamaan Ibadah Haji – Kita semua sudah tahu bahwa dalam rukun Islam, ibadah haji merupakan yang di urutan kelima, dimana kalau sudah terpenuhi, maka sempurnalah ibadah kita terhadap Allah swt.

6 Keutamaan Ibadah Haji

Haji tidak diwajibkan bagi orang yang belum mampu, dan diwajibkan bagi hamba-Nya yang sudah mampu. Setiap ibadah tentunya punya keutamaannnya masing-masing, termasuk haji yang keutamaannya disebutkan di dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah.

1. Haji Termasuk Salah Satu Amalan Yang Utama

Haji merupakan salah satu amalan yang utama (afdhal), sebagaimana jawaban Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika ditanya tentang amalan yang paling afdhal. Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata;

سُئِلَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – أَىُّ الأَعْمَالِ أَفْضَلُ قَالَ « إِيمَانٌ بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ » . قِيلَ ثُمَّ مَاذَا قَالَ « جِهَادٌ فِى سَبِيلِ اللَّهِ » . قِيلَ ثُمَّ مَاذَا قَالَ « حَجٌّ مَبْرُورٌ »

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ditanya, “Amalan apa yang paling afdhal?” Beliau menjawab, “Beriman kepada Allah dan Rasul-Nya.” Ada yang bertanya lagi, “Kemudian apa lagi?” Beliau menjawab, “Jihad di jalan Allah.” Ada yang bertanya kembali, “Kemudian apa lagi?” “Haji mabrur”, jawabnya.” (HR. Bukhari)

Dalam hadits ini haji yang mabrur disetarakan dengan iman dan jihad. Tentu ini merupakan bukti akan mulia dan utamanya ibadah haji.

2. Haji Menghapus Kesalahan dan Dosa

Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu mengatakan bahwa  ia mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ حَجَّ لِلَّهِ فَلَمْ يَرْفُثْ وَلَمْ يَفْسُقْ رَجَعَ كَيَوْمِ وَلَدَتْهُ أُمُّهُ

Barangsiapa yang melaksanakan ibadah haji karena Allah, kemudian dia tidak mengucapkan kata-kata yang keji atau kotor serta tidak berbuat kefasikan, maka dia akan kembali bersih (dari dosa-dosa) seperti hari ketika dia dilahirkan oleh ibunya.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim).

Orang yang kembali dari haji seolah baru dilahirkan oleh ibunya, karena dengan haji dosa-dosa dan kesalahannya diampuni oleh Allah. Di  dalam Shahih Muslim disebutkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berkata kepada ‘Amr bin Al-‘Ash radhiyallahu ‘anhu;

وأن الحج يهدم ما كان قبله

dan  bahwasanya haji menghapus dosa-dosa (kejelekan) yang telah lalu.” (HR. Muslim)

Dalam hadits lain yang diriwayatkan oleh Ibnu Mas’ud, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda;

تَابِعُوْا بَيْنَ الْحَجِّ وَالْعُمْرَةِ فَإِنَّهُمَا يَنْفِيَانِ الْفَقْرَ وَالذُّنُوْبِ كَمَا يَنْفِى الْكِيْرُ حَبَثَ الْحَدِيْدِ وَالذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ

“Ikutilah antara ibadah haji dan umrah, karena keduanya akan menghilangkan kefakiran dan berbagai dosa sebagaimana alat pandai besi menghilangkan kotoran yang ada pada besi, emas dan perak”.

3. Balasan Surga Bagi Yang Hajinya Mabrur

Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu mengatakan, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

وَالْحَجُّ الْمَبْرُورُ لَيْسَ لَهُ جَزَاءٌ إِلاَّ الْجَنَّةُ

Dan haji mabrur tidak ada balasan yang pantas baginya selain surga.” (HR. Bukhari  dan Muslim).

Menurut Imam An Nawawi rahimahullah , makna ‘tidak ada balasan yang pantas baginya selain surga’,  adalah bahwasanya balasan bagi haji mabrur tidak cukup jika pelakunya hanya dihapuskan sebagian kesalahannya. Bahkan ia memang pantas untuk masuk surga.” (Syarh Shahih Muslim, 9/119).

Seorang yang melaksanakan ibadah haji dapat meraih haji mabrur bila (1) Haji yang dikerjakannya tegak di atas prinsip ikhlas dan ittiba’. Artinya ia berhaji Lillahi Ta’ala, mengharap wajah Allah semata, dan mengikuti petunjuk Rasul dalam tata cara hajinya, sebagai pengejawantahan dari perintah Rasul,”khudzu ‘anni manasikakum, ikuilah tataca cara berhajiku”.  (2) Setelah haji ia makin shaleh baik secara ritual personal, maupun secara sosial. Jabir bin Abdullah radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan bahwa Rasullah pernah ditanya tentang haji mabrur. Beliau bersabda; “Memberi makanan dan berbicara yang baik; ith ‘amuth tha’am wa thibul kalam”. (HR. Ahmad, Thabrani, Baihaqi, dan Hakim, serta dishahihkan oleh Syekh Al-Albani).

4. Haji Merupakan Jihad Bagi Wanita

Haji juga merapakan amalan yang setara dengan jihad bagi wanita Muslimah. Ummul Mu’minin ‘Aiysah radhiyallahu ‘anha berkata kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam;

يَا رَسُولَ اللَّهِ ، نَرَى الْجِهَادَ أَفْضَلَ الْعَمَلِ ، أَفَلاَ نُجَاهِدُ قَالَ « لاَ ، لَكِنَّ أَفْضَلَ الْجِهَادِ حَجٌّ مَبْرُورٌ »

Wahai Rasulullah, kami memandang bahwa jihad adalah amalan yang paling afdhol. Apakah  kami harus berjihad?” “Tidak. Jihad yang paling utama (bagi wanita)adalah haji mabrur.” (HR. Bukhari).

Dalam lanjutan hadits tersebut ‘Aisyah Radhiyallahu ‘anha mengatakan, “Aku tidak pernah meninggalkan haji semenjak mendengar hal itu dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam”. (HR. Bukhari)

Dan dalam hadits lain  dari Abu Hurairah radhiallaahu anhu, Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam , bersabda:

جِهَادُ الْكَبِيْرِ وَالضَّعِيْفِ وَالْمَرْأَةِ الْحَجُّ وَالْعُمْرَةُ

Jihad  bagi orang yang tua, orang yang lemah dan wanita adalah haji dan umrah.” (HR. An-Nasai)

5. Haji Dapat Menghilangkan Kefakiran

‘Abdullah bin Mas’ud radhiallaahu anhu  meriwayatkan, Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam bersabda:

تَابِعُوْا بَيْنَ الْحَجِّ وَالْعُمْرَةِ فَإِنَّهُمَا يَنْفِيَانِ الْفَقْرَ وَالذُّنُوْبِ كَمَا يَنْفِى الْكِيْرُ حَبَثَ الْحَدِيْدِ وَالذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ وَلَيْسَ لِلْحَجَّةِ الْمَبْرُوْرَةِ ثَوَابٌ إِلاَّ الْجَنَّةَ وَمَا مِنْ مُؤْمِنٍ يَظَلُّ يَوْمَهُ مُحْرِمًا إِلاَّ غَابَتِ الشَّمْسُ بِذُنُوْبِهِ

Ikutilah antara ibadah haji dan umrah, karena keduanya akan menghilangkan kefakiran dan berbagai dosa sebagaimana alat pandai besi menghilangkan kotoran yang ada pada besi, emas dan perak. Dan tiada balasan bagi haji yang mabrur kecuali Surga, tidaklah seorang mukmin dalam kesehariannya berada dalam keada-an ihram, melainkan matahari terbenam dengan membawa dosa-dosanya.”

6. Para Jama’ah Haji Adalah Tamu Allah

Sebagaimana dinyatakan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melalui hadits yang diriwayatkan Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, bersabda,

الْغَازِى فِى سَبِيلِ اللَّهِ وَالْحَاجُّ وَالْمُعْتَمِرُ وَفْدُ اللَّهِ دَعَاهُمْ فَأَجَابُوهُ وَسَأَلُوهُ فَأَعْطَاهُمْ

Orang yang berperang di jalan Allah, orang yang berhaji serta berumroh adalah tamu-tamu Allah. Allah memanggil mereka, mereka pun memenuhi panggilan. Oleh karena itu, jika mereka meminta kepada Allah pasti akan Allah beri” (HR. Ibnu Majah. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan).

Alangkah besarnya pahala bagi orang-orang yang mabrur dalam hajinya. Semoga kita semua termasuk ke dalam golongan orang-orang yang oleh Allah swt dimudahkan untuk mejadi tamu-Nya di rumah-Nya.

Mari berdo’a agar kita dapat menjadi orang-orang yang mampu untuk mempersiapkan dan melaksanakan ibadah tersebut dengan kuatnya fisik, kematangan, dan rezeki yang halal tentunya.

Semoga Allah swt memberikan kita karunia berupa haji yang mabrur yang balasannya tidak lain dan tidak bukan adalah surga-Nya. Aamiin.

Referensi :
fimadani
wahdah

 

Leave a Reply

Kembali
×